
Isra Mi’raj adalah peristiwa ajaib dalam sejarah Islam yang merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem (Isra) dan kemudian melanjutkan ke langit serta surga (Mi’raj) dalam satu malam. Peristiwa ini menjadi salah satu mukjizat besar Nabi Muhammad SAW dan memiliki makna mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia.
I. Pengertian Isra Mi’raj
- Isra: Secara harfiah berarti “perjalanan pada malam hari”. Dalam konteks Islam, istilah ini mengacu pada perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa yang dilakukan dengan menggunakan hewan pembawa bernama Buraq.
- Mi’raj: Berarti “perjalanan naik atau ke atas”. Merujuk pada perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa menuju langit-langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, pohon terakhir di langit ketujuh.
II. Sejarah dan Latar Belakang
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi sekitar satu tahun sebelum Hijrah (migrasi Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah), pada malam 27 Rajab menurut kalender Hijriah. Pada masa itu, umat Islam di Makkah sedang menghadapi tekanan dan penindasan dari kaum musyrik Quraisy. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga baru saja mengalami tahun kesedihan (Am Al-Huzn) setelah wafatnya istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Talib yang telah lama melindunginya. Peristiwa ini datang sebagai anugerah dari Allah SWT untuk memberikan kekuatan spiritual dan menguatkan iman Nabi Muhammad SAW serta umatnya.
Peristiwa ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Isra ayat 1 yang menyatakan: “Subhanallah yang telah mengadakan perjalanan malam dengan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
III. Proses dan Peristiwa Penting
A. Tahap Isra (Perjalanan ke Masjid Al-Aqsa)
- Malam itu, Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat ketika Malaikat Jibril AS datang kepadanya. Jibril AS kemudian membawanya ke dekat Ka’bah, mencuci hatinya dengan air Zamzam, dan mengisinya dengan iman serta hikmah.
- Kemudian, hewan Buraq diperlihatkan. Buraq memiliki ukuran lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari keledai, berwarna putih, dan setiap langkahnya dapat mencapai ufuk.
- Dengan Buraq, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan cepat melewati beberapa tempat penting seperti Madinah, Gunung Sinai (tempat Nabi Musa AS menerima Taurat), dan Betlehem (tempat kelahiran Nabi Isa AS) sebelum tiba di Masjid Al-Aqsa.
- Setelah tiba, Nabi Muhammad SAW melakukan shalat dua raka’at dan kemudian menjadi imam shalat bagi para nabi terdahulu seperti Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Ibrahim AS. Hal ini menunjukkan kedudukan istimewa Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir.
- Setelah shalat, Malaikat Jibril AS menghadiahkan dua wadah, satu berisi anggur dan satu lagi berisi susu. Nabi Muhammad SAW memilih susu, yang menandakan bahwa beliau telah memilih jalan yang sesuai dengan fitrah alam semesta.
B. Tahap Mi’raj (Perjalanan ke Langit)
- Setelah dari Masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW naik ke langit menggunakan alat perjalanan yang disebut Mi’raj. Dalam perjalanannya, beliau bertemu dengan para nabi di setiap langit:
- Langit Pertama: Bertemu dengan Nabi Adam AS.
- Langit Kedua: Bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
- Langit Ketiga: Bertemu dengan Nabi Yusuf AS.
- Langit Keempat: Bertemu dengan Nabi Idris AS.
- Langit Kelima: Bertemu dengan Nabi Harun AS.
- Langit Keenam: Bertemu dengan Nabi Musa AS.
- Langit Ketujuh: Bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.
- Pada setiap langit, Nabi Muhammad SAW menerima petunjuk dan wahyu serta melihat berbagai tanda kebesaran Allah SWT, termasuk melihat neraka dan surga.
- Puncak perjalanan adalah ketika beliau mencapai Sidratul Muntaha. Di sinilah, Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Awalnya diperintahkan untuk shalat 50 kali, namun setelah melakukan musyawarah dengan Nabi Musa AS dan meminta pengurangan kepada Allah SWT, akhirnya ditetapkan menjadi lima kali saja. Selain itu, beliau juga diberikan dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah yang dianggap sebagai harta karun dari Kursi Allah SWT.
IV. Makna dan Pesan
- Kebesaran Allah SWT: Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT tidak terbatas oleh waktu dan ruang, serta mampu melakukan hal-hal yang melampaui pemahaman manusia.
- Status Istimewa Nabi Muhammad SAW: Menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan terakhir dan pemimpin umat manusia yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
- Pentingnya Shalat: Shalat lima waktu yang ditetapkan menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT.
- Sikap Tawadhu: Nabi Muhammad SAW memilih menjadi hamba Allah SWT daripada raja, mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dalam kehidupan.
- Keteguhan dalam Dakwah: Setelah kembali dari Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dengan tegas menyampaikan apa yang telah dialaminya meskipun mendapat penolakan, mengajarkan untuk selalu menyampaikan kebenaran meskipun menghadapi tantangan.
- Menghargai Pendapat Orang Lain: Sebagai imam shalat bagi para nabi terdahulu, menunjukkan pentingnya menghargai dan menghormati pandangan serta kontribusi orang lain.
- Keistimewaan Masjid Al-Aqsa: Menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa memiliki nilai spiritual yang tinggi dalam agama Islam.
V. Perayaan di Indonesia
Di Indonesia, Isra Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dan bahkan dijadikan hari libur nasional. Berbagai kegiatan biasanya digelar untuk merayakannya, antara lain:
- Tabligh Akbar: Kegiatan ceramah agama yang diadakan di berbagai tempat seperti masjid, lapangan, atau instansi pemerintah untuk menyampaikan makna dan hikmah Isra Mi’raj.
- Pengajian dan Doa Bersama: Dilakukan di masjid atau rumah untuk membaca Al-Qur’an, berdoa, dan merenungkan peristiwa Isra Mi’raj.
- Tradisi Lokal: Di beberapa daerah, terdapat tradisi unik seperti:
- Pawai Obor di Bandung: Peserta membawa obor sambil bersholawat dan diakhiri dengan silaturahmi.
- Rajaban di Cirebon: Ziarah ke makam pangeran dan pengajian di keraton.
- Rajeban Peksi Buraq di Yogyakarta: Kirab replika Buraq dan pembagian hasil bumi.
- Khatam Kitab di Temanggung: Membaca kitab yang menceritakan Isra Mi’raj setelah shalat Isya.
- Nganggung di Bangka Belitung: Makan bersama di halaman masjid dengan membawa makanan tradisional.





